Umak baru pulang dari kampung kami, Riam Panjang, Kapuas Hulu. Beliau ada di sana sejak hampir satu bulan lalu, sejak September.
Banyak kabar dari kampung beliau ceritakan. Cerita yang kami tunggu untuk mengobati kerinduan kami tentang tanah kelahiran yang ditinggalkan sejak puluhan tahun lalu.
Ya, Umak cerita tentang nenek, tentang adik dan keluarga, tentang orang kampung, tentang kebun getah dan durian, tentang jalan dan sungai, dll..
Banyak hal yang diceritakan, ada yang lucu ada yang menyedihkan, ada yang baik ada yang buruk.
Salah satu kabar buruk dari kampung yang diceritakan adalah soal musim sulit yang warga hadapi.
“Podih idup urang kinih tuk,” begitu kata beliau. Maksudnya, pedih hidup orang kampung sekarang ini.
Kehidupan warga pedih kata Umak karena mereka tidak bisa menanam padi dengan baik. Pada sebagian ladang warga padi tumbuh merana, tidak subur dan harus bersaing dengan rumput yang luar biasa. Sebagian lagi malah tidak bisa ditanami padi.
Semua ini terjadi karena warga tidak sempat membakar ladangnya. Atau, ada yang mencoba membakar tetapi terlambat dari momentum musim “roba’ rangkai” atau ranting kering atau musim kemarau.
Terlambat membakar menyebabkan daun, ranting, dahan dan pokok kayu tidak hangus dan menyuburkan tanaman. Ini juga yang menyebabkan sebagian buah rumput tidak hangus dan mati.
Apa yang terjadi pada warga bukan karena mereka salah menghitung waktu tanam, tetapi keadaan ini karena sikap pemerintah. Setidak begitu kesimpulan warga yang saya amini.
