Bulan Juli-Agustus seharusnya musim tunu (bakar lahan) dilewatkan warga karena warga dilarang membakar lahan. Pemerintah menurunkan tim ke lapangan melarang pembakaran untuk menghindari asap. Polisi diperintahkan menangkap warga yang membakar.
Takut ditangkap itulah yang menyebabkan warga merana sekarang ini. Padi sulit tumbuh, rumput raya merenda.
Lebih merana lagi karena harga karet masih rendah, sekitar Rp 5000an per kilo. Mereka tidak bisa membeli pupuk dan sebenarnya tidak biasa memupuk padi di lahan kering. Mereka tidak bisa menyemprot rumput karena racun rumput mahal untuk ukuran sebuah ladang.
Apa sikap pemerintah? Apa kompensasi larangan? Apa bantuan yang diberikan untuk masyarakat yang sedang sulit seperti ini?
Tidak Ada. Belum ada bantuan pupuk dan tak ada bantuan racun rumput. Belum pula ada cerita latihan alih teknologi pengolahan lahan.
Jadi kalau masyarakat merana, nampaknya… meranalah sendiri. Kalau mau sulit, sulitlah sendiri. Mungkin kalau mau marah, marahlah sendiri pula.
Itulah kabar buruk dari kampung yang semoga menggugah pihak yang sudah menimbulkan penderitaan warga. (*)
