Kesan pertama saya adalah ketika dia menemani ayahnya menerima Borneo Tribune Award, akhir 2008. Dia bicara laksana diplomat di meja bundar di mana ada ayahnya, ibunya, dan Dirut PT Borneo Tribune Press, W Suwito, SH, MH.
Bicara gaya diplomat adalah ketika ayahnya bicara berapi-api di mimbar dengan kerap kali mendapat applaus ratusan hadirin, Karol menterjemahkan kata-kata ayahnya pada majelis meja bundar. “Bapak kalau sudah bicara lupa dengan lelah,” katanya.
Pada even lain, saat Angel melahirkan putranya. Cucu pertama Gubernur Cornelis. Karol berdiri menyambut tamu dengan ramah. Bukan dibuat-buat. “Ini anak bakal banyak dapat suara asal dia mau,” kata saya kepada kawan-kawan yang hadir di Pendopo. Mereka antara lain adalah mahasiswa dan mahasiswi Bonn University, Jerman.
Okelah jika publik menilai putri sulung Cornelis ini punya kans karena ayahnya, tetapi dalam kesaksian saya, saya melihat Karol lepas dari prediksi itu. Dia pekerja keras.
Bukti kerja keras yang tertangkap kru Borneo Tribune adalah saat Pilpres. Dia turun langsung dari TPS ke TPS melakukan monitoring. “Kita harus cek TPS TPS karena di sini kuncinya,” kata Karol.
Karol berjalan sendiri. Dia hanya ditemani seorang sopir. Bajunya merah. Perutnya sedang hamil tua ketika itu.
