Opini

Memaknai 249 Pontianak

Memaknai 249 Pontianak

Oleh: Nur Iskandar

Kota Pontianak adalah kota terbuka. Berbagai suku dan bangsa bukan saja boleh datang dan berkembang, bahkan diundang. Artefak sejarahnya meninggalkan nama daerah. Lihat dari Siang Tan yang menjadi Siantan. Tengok Banjar Serasan, Kampung Dalam Bugis, Kampung Arab, Kampung Bangka, Kampung Bali, Martapura, hingga Siam dan Kamboja. Kota Pontianak sejak 1771 sudah berplatform terbuka. Platform lokal, nasional, internasional. Perdagangan di Bandar Raya Kota Pontianak juga tembus Temasek alias Singapura, Malaka, hingga Eropa. Pengetahuan dan teknologi Pontianak saat itu sudah masuk buku buku sejarah internasional. Saya membaca beberapa surat Sultan Pontianak kepada Jenderal Raffles di Temasek. Juga membaca surat Sultan Pontianak kepada Ratu Belanda. Sungguh hebat diplomasi mereka.

Selain faktor digniti, para pemimpin kita juga berani. Berani terbuka dalam membangun negeri. Terbuka untuk berdemokrasi. Sampailah kerajaan dan daerah istimewa ini lebur sebagai republik. Kini bagian penting NKRI. Terlebih saat pelabuhan internasional Tanjungpura diresmikan di Kijing nanti. Juga jalan tembus ke ibukota negara di Kesultanan Paser, Kalimantan Timur. Pontianak menjadi kota yang stratejik. Ditunjau dari geo-ekonomi maupun politik.