Di masa pers kampus saya geluti 1992-1999, saya merasa nyaman dengan liputan sastra. Lubuk penuh ikannya adalah Sanggar Kiprah. FKIP Universitas Tanjungpura. Di sana saya meliput bersama dua aktivis pers kampus yakni Syafarudin Usman MHD dan Sri Nur Aeni. Di sana pula berinteraksi dengan Eusabinus Bunau, Pradono, Dedi Ari Aspar, hingga Sapardi Djoko Damono yang mereka undang berkisah sastra puitik Hujan Turun di Bulan Juni yang sederhana namun sangat romantik.

*

Pada saat SMP kelas 1 tepatnya HUT 17 Agustus 1986 pihak Taman Budaya Pontianak bekerjasama Kanwil PDK menggelar lomba baca puisi kemerdekaan. Di sana puisi Rendra, Abdul Hadi WM, Sutardji dan Taufik Ismail jadi pilihan. Saya membacakan Puisi Wajib Chairil Anwar Antara Kerawang Bekasi dan puisi pilihan Dari Seorang Tukang Rambutan kepada Istrinya…. Alhamdulillah dengan bimbingan kurator puisi Kalimantan Barat Josep Oedilo Oendoen saya dapat juara harapan 1. Masuk radio Diah Rosanti untuk wawancara. Sebab saya paling kecil saat itu. Para jawara yang lain sudah pada kesohor Kak Yani, Beben, Iqbal….

Berinteraksi dengan komunitas puisi saya mendalami realitas berujung teks kata kata yang bernyawa menyiratkan pesan sangat dalam adalah rautan peradaban.

Ditambah dari liputan pers yang melaporkan aneka peristiwa pula saya mengenal Wiji Thukul dengan teks puisi lawasnya nan sangat pamungkas di kalangan pegiat pers kampus adalah: Hanya satu kata: Lawan!

Kekinian saya aktif sebagai Atelian. Asosiasi Tradisi Lisan. ATL.