Berada di atmosfer orang orang pintar dan cerdas lewat gema sastra dan budaya level nasional dan internasional. Di sana saya berguru dengan KH Djawawi Imron dan Prof Mujizah, juga Prof Dr Chye Retty Isnendes. Sosok yang dengan telaten mau menjawab berbagai pertanyaan seputar sastra dan budaya. Pakar pakar di bidangnya dan menekuni relung akademiknya dengan perasaan cinta sastra yang halus dan lembut selembut sutera dengan benang benang emas.

Di sana juga ada Bunda Ninuk Kleden. Bu Isworo. Bu Kartini. Dan masih banyak lagi…

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun.1

Ternyata puisi erat kaitannya dengan pantun. Kalau puisi adalah sastra modern dengan metafora dan rima, maka pantun adalah filsafat hidup Melayu yang turun temurun menjadi lingua frangka dan Bahasa Persatuan Republik Indonesia. Ia menjadi bahasa pergaulan, bahasa dagang, pendidikan hingga simbol politik.

Pantun sastrawi sekali. Apa-apa saja dilantunkan. Dipantunkan. Baik sedih maupun bahagia. Suka maupun duka. Ada asa asih dan asuh membentuk budipekerti dan akhlakul karimah. Character building yang sangat penting.

Ketika saya masuk final LKTI di Unsoed Purwokerto dengan judul Pemanfaatan Mikoriza Vescular Arbuscular untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Lahan Gambut ayah saya berpesan sebuah pantun:

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik Gunung Angsa Dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik tuan terkenang jua

Ndilalah saya diminta mewakili finalis untuk kesan dan pesan. Kebetulan kami juga juara 1 saat itu. Maka pantun di atas pecah membuncah. Membuat tepuk tangan mengembang.

Ternyata pantun disambut antusias di Jateng. Saya suka. Sejak saat 1993 itu, pantun dikais lagi secara arkais. Dibaca. Diteliti. DIpelajari.