Ternyata kehidupan kami syarat pantun. Hampir setiap upacara akad nikah orang-orang berpantun. Juga ceramah agama. Apalagi sambutan petinggi negeri. Jadi pantun sudah melekat erat. Mendarah daging.
Di era 1980 kami belajar dengan Ustadz Haji Asfiah Mahyus yang populer dengan pantun:
Jalan jalan ke Kota Mekah
Jangan lupa membeli kurma
Kalau tuan mau berkah
Hendaknya patuh pada ayah-bunda
Di kediaman Asfiah Mahyus juga saya mendapatkan “mukjizat” the missing link berupa pengakuan Bung Karno bahwa Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II Alkadrie dan bukannya Muhammad Yamin. Belakangan menjadi buku biografi politik yang masyhur di negeri Dwi Warna. Indonesia Raya.
Pantun terkais lebih intens sebagai Atelian di MABM. Di sana ada Prof Dr H Chairil Effendy yang pakar sastra lisan membimbing kami. Amat terkenal pantunnya:
Kalau bukan karena tenun
Tidak baju menjadi cual
Kalau tidak karena pantun
Tidak Melayu jadi terkenal
Di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL/Atelian) pula Prof Dr H Chairil Effendy mengenalkan dengan ketokohan Dr Pudentia MPSS. Wanita hebat Asia Pasifik di bidang sastra lisan bersama Unesco Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengannya pula kami bergandengan tangan memperjuangkan pantun WBTB Unesco tentu bersama Riau, Kepri, dan Betawi.
Di masa membangun Harian Borneo Tribune, kami membuka rubrik Filantropi. Di sana ada liputan satu halaman berbagai derap filantropis di Kalimantan Barat.
Wartawati saya, Safitri Rayuni meliput Warung Kopi Pantun Pusaka Agus Muare. Agus Muare juga telah menerbitkan berbagai buku pantun selasih.
