Opini

Omnibus Berdarah, “Presiden Kabur” hingga Pemberantasan Korupsi Lebih Prioritas

Omnibus Berdarah, “Presiden Kabur” hingga Pemberantasan Korupsi Lebih Prioritas

Sejarah Indonesia, 1950 dulu–Sultan Hamid–Sang Perancang Lambang Negara dan arsitek penyerahan kedaulatan di Konferensi Meja Bundar dituduh “pengkhianat” karena berhaluan federalis–kini para wakil rakyat dituding rakyatnya sendiri sebagai “pengkhianat” kecuali yang Walk-Out. Bahkan Presidennya dituding dengan trending topik tagar “Presiden Kabur”. Sejarah peristiwa berulang–belum jauh sepuh disauh–kiambang pun bertaut. Kita mengingatkan saja bahwa ishlah sejarah itu tetap penting. Jangan anggap remeh–bahwa ruh itu tidak berlalu–mereka masih menyaksikan. Aspirasi sekecil apapun mesti didengarkan dan diperhatikan. Jika keadilan tidak ditegakkan–akan Tuhan datangkan bala-bencana sebagai peringatan.

Budayawan Betawi Riduan Saidi menasehati, “Kopat-Kopit negeri ini (maksudnya Pandemi Covid-19) tidak hanya bisa dibaca lewat ilmu kesehatan dan teknologi vaksinasi. Tapi teologi. Ketuhanan. Jangan-jangan Tuhan murka kepada kita karena yang sebenarnya pahlawan dituduh pengkhianat, dan sebenar-benarnya pengkhianat jadi pahlawan. * Foto Presiden Joko Widodo di depan podium berlambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila.