Opini

Pancasila itu Murni untuk Bangsa atau “Permainan Politik Sesaat?” Sebuah Analisis Tajam untuk Sultan Hamid Pahlawan Nasional atau Pengkhianat Negara

Pancasila itu Murni untuk Bangsa atau “Permainan Politik Sesaat?” Sebuah Analisis Tajam untuk Sultan Hamid Pahlawan Nasional atau Pengkhianat Negara

Di dalam buku Mijn Memories, Westerling menulis sebagai pelaku utama. Dia mengakui bahwa APRA tidak ada kaitannya dengan Sultan Hamid. Titik. Kalaupun ada tuduhan kepadanya terlibat APRA, maka itu adalah tendensi politik. Jelas…
Jika Prof AM Hendropriyono di dalam Agama Akal TV (Channel Youtube) menegasikan Westerling di dalam buku itu “membela diri”, kita pertanyakan, membela diri untuk apa? Westerling bebas hidup di Belanda. Yang ada adalah Westerling menulis apa adanya tentang Hamid, sosok kesatria yang diberangus hak-hak politiknya yang ketika itu masih muda belia serta sedang cemerlang. Maka jelas, Hamid mengalami “peradilan politik”.

Kenapa lambang negara karya Sultan Hamid II memenangkan sayembara penciptaan lambang negara yang diadakan oleh negara, dihelat Menteri Prijono saat itu? Karena dia memang cerdas. Dia memahami apa maunya sang idiolog Soekarno. Jika tidak cerdas, maka Sultan Hamid tidak akan menghimpun banyak referensi lokal, nasional dan internasional dan mempelajari pidato-pidato Bung Karno tentang Pancasila. Sultan Hamid berhasil meraup semua nilai-nilai Pancasila itu dan dituangkan secara indah di Lambang Negara. Sesuatu yang pantas dibanggakan dengan tagline, “Garuda Di Dadaku”.