By: Anshari Dimyati
Ketua Yayasan Sultan Hamid II

Jalan juang ini membuat kami berjumpa banyak orang, dalam rentang waktu yang cukup panjang. Saya “si bungsu” di Institusi kami ini, bersyukur pernah dididik oleh banyak mentor dengan segudang pengalaman, dengan banyak timbunan pengetahuan. Max Yusuf Alkadrie, Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II (1967-1978) adalah salah seorang mentor, guru, dan ayah yang tak padam sabar menghadapi kobaran api seorang Anshari Dimyati, kala kehormatan Sultan Hamid II terinjak oleh beberapa kalangan pendendam, kala itu.

Gelas jatuh, air tumpah. Memori tak terlupakan, waktu kami presentasi soal Sultan Hamid II di Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (RI). Itu panggung formal pertama saya di awal tahun 2012, sesudah saya menyelesaikan Tesis tentang kasus Sultan Hamid II. Selanjutnya membawa saya kepada babak lanjutan, estafet perjuangan. Hingga sekarang. Barangkali banyak orang menganggap ini ringan, remeh, bahwa bicara ‘api sejarah’ hanya nyala yang barangkali sebentar padam.

Tidak bagi kami, ada kehormatan (dignity) yang kami perjuangkan. Kehormatan itu bukan milik segelintir orang. Itu milik kita semua. Tak malu-kah kita ketika bertandang keluar kampung halaman, kemudian dikatakan bahwa pahlawan kita seorang pengkhianat bangsa? Apakah tak jatuh harga diri atas orang yang kita hormati, sedangkan di luar sana orang lain menunjuk ajar dalam sudut pandang beda tak beretika?

Ya! Kita orang Kalimantan Barat (Kalbar), mengaku lahir di Kalbar, dan sosok bumi putra peletak dasar pertama wilayah ini, dikatakan pengkhianat bangsa? Ini soal apa kata generasi penerus kita?, kalau tak mengubah dan meluruskan persoalan yang tak kunjung usai berpuluh tahun lamanya.