Perlu diingat bahwa kerjasama dengan Belanda bagi Kesultanan Pontianak sejak tahun 1774 antara pendiri kesultanan Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan Belanda. Sultan Syarif Abdurahman putra Habib Husein. Habib Husein menikahi Nyai Tua yang putri asli Dayak dari wilayah Selatan, yakni Ketapang.

Pada tubuh Sultan Hamid II Alkadrie mengalir darah neneknya yang Dayak, ibunya yang Hadral Maut / Arab Selatan. Hanya terminologi sekarang menggolongkan Arab yang identik dengan Islam itu Melayu. Kesultanan Pontianak dipimpin Sultan, etnik Melayu, keturunan Arab/Habib. Padahal perlu juga diingat Hamid berdarah Dayak, sehingga tak heran Beliau pro Dayak dengan membentuk Kompi Dayak yang dididik ilmu militer.

Mari kita jelajahi Kota Pontianak. Buka mata kita semua. Baca nama-nama daerah.
Kalau kita lihat di pemukiman tua di kota ini, dapatlah kita nama Kuantan, Banjar Serasan, Saigon, Siam, Kamboja, Bali, Kampung Arab, Kampung Bugis dsb … Telusurilah nama-nama tersebut. Anda akan dapatkan jiwa pluralistik sejak awal pembentukan kependudukan ibukota Kalbar ini. Jiwa federalis sudah sejak awal pembentukannya.

Lha yg namanya orang luar tentunya seijin Sultan untuk dapat tinggal di Pontianak. Mereka pun hidup rukun dan damai. Demikian juga kedatangan Belanda pertama kali di Pontianak.

Sultan Pontianak Sy Abdurachman Alkadrie menyambut baik, menandatangani kontrak politik. Mereka diberikan wilayah untuk bermukim. Di antaranyalah dibangun gereja dan sekolah.