Sebagai orang Pontianak-DIKB, Beliau juga minta saran pada sahabat beliau etnic Dayak, Panglima Burung, Massuka Djanting, Ovaang Oeray dll. Nah karena ini lambang negara tentunya harus bagus supaya bisa bersanding dengan lambang negara lainnya, Beliau riset lambang negara lainnya yang menggunakan figur utama elang atau rajawali. Artinya inilah yang bisa dijadikan contoh millenial saat ini di mana sosok yang berkebangsaan, tak lupa pada muatan lokal daerah serta berwawasan global internasional.

Sultan Hamid II sangat mencintai Indonesia. Konsep yang diinginkan adalah Indonesia dibangun dengan standar SDA dan SDM mandiri. Memang tidak mudah tentunya. Karena SDM saat itu minim. Apalagi DIKB, saat 1941-1944 1-2 generasi terbaiknya telah menjadi korban kekejaman pembunuhan Jepang.

Kalau kita lihat susunan personil lembaga pemerintahan DIKB nampak betul keterwakilan dari etnik yang ada. Pada lembaga eksekutif Badan Pemerintah Harian (BPH) yang beranggota 5 orang, yaitu J.C Oevaang Oeray, A.F Korak, Mohamad Saleh, Lim Bak Meng, dan Nieuwhusysen. Lembaga Legislative / Dewan Kalbar beranggotakan 12 orang wakil swapraja, 3 orang wakil Neo-Swapraja, 8 orang etnik Dayak, 5 orang etnik Melayu, 8 orang etnik Cina, 4 orang Indo Belanda. Beliau sangat memperhatikan benar percepatan kualitas SDM dari etnik Dayak misalnya dalam kebijakannya latihan militer siang hari, belajar membaca di malam hari tanpa melihat bentuk fisik, sesuatu yang di Jawa sudah standar berapa ukuran tinggi badan, panjang napas, jumlah gigi, hingga level pendidikan.