Senin, 21 Juli 2025 saat menutup Kongres Partai, Presiden Prabowo berpantun:
Pagi cerah burung bernyanyi
Terbang rendah di pohon asri
Mas Kaesang terpilih Ketum PSI
Teruskan berbakti untuk rakyat dan negeri…
Alhamdulillah wayukurillah watabarakallah wanikmatillah orang nomor 1 di Indonesia berpantun dalam pidato di acara resmi nasional. Tentu saja disambut dengan antusias, “Cakeeeeep…” Riuh. Gemuruh.
Ada 3 pantun yang dilantun, sehingga membuat yang disebut jadi tersipu. Mengembang senyum. Membuncah tawa. Mencairkan suasana tegang menjadi ringan bersemi kearifan budaya lokal-nasional ala Nusantara. Warisan adiluhung berabad-abad lamanya di Tanah Air. Sastra lisan yang turut mewarnai pengakuan Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa: Indonesia.
Pantun Presiden RI ini sangat bermakna. Selain pesan kepada partai politik, juga kepada publik. Kaya metafora dan pesan. Pesan sastra merawat adab dan peradaban. Bahwa Indonesia punya kekayaan kearifan yang menggembirakan.
Dimana ada keramaian, di sana pantun dilantun. Dimana ada kesusahan, di sana pantun menuntun. Dimana ada pendidikan, di sana pantun hadir memberikan filsafat beraraskan sopan dan santun…
Makna terdalam adalah bahwa Presiden RI memperkuat Surat Keputusan Menteri Kebudayaan yang menetapkan adanya Hari Pantun Nasional (Hartunas) dengan No 163/M/2025 tertanggal 7 Juli 2025. Ditandatangani Menbud Dr Fadli Zon.
