Oleh: Nur Iskandar
Gerakan REINSTAL POWER SYSTEM wakaf di mesjid terbesar kawasan Jalan Merdeka, Pontianak-Kalbar, telah menginjak hari kedua. Dimulai dengan sosialisasi awal bersama para nazir wakaf maupun dewan kemakmUran mesjid (DKM-pimpinan mantan Kapolsek Kota H Zulkarnain), kini telah memasuki tahap sosialisasi dan aktivasi pemuda-remaja mesjid.
Kondisi mati suri pemuda-remaja mesjid idem dito atau sama dengan Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang kini telah hidup, bersemi, dari jumlah murid empat orang bertumbuh menjadi 16 orang dalam enam minggu atau 1,5 bulan berjalan.
Konsorsium Tentara Wakaf Produktif (Tawaf) Indonesia dengan regulator dari Badan Wakaf Indonesia (BWI ) Kalimantan Barat terus mengupayakan wakaf tumbuh dan berkembang menjadi produktif dan lebih produktif lagi “study-case” Sirajul Islam. Masalah yang dihadapi Sirajul Islam dengan perwakafan aktif sejak tahun 1936 ini adalah kaderisasi dengan pola manajemen apik-profesional sempat terputus.

Menyadari kondisi mati-suri tersebutlah maka “terputusnya mata rantai nazir” dengan sebab meninggal dunia dilakukan pembaharuan nazir pada empat bulan lalu, yakni sekira bulan Agustus 2020. Nazir yang ditunjuk Sirajul Islam selaku General Manajer terdiri dari lima orang, yakni Imam Besar Mesjid, Muhammad Azdi, dr Nursyam, Attamimi, dan Marsatun. Kelimanya bergiat menyelesaikan segala sesuatu yang menjadi masalah mati-surinya TPA dan Remaja-Pemuda Mesjid. Lalu bergeraklah dengan perbaikan legalitas maupun pembagian tugas secara keorganisasian. Bimbingan dilakukan BWI untuk fungsi nazir berpayung hukum UU No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Nazir bergandengan tangan dengan DKM yang dipimpin H Zulkarnain telah memunculkan berbagai program aktual.
