Opini

Siapa Aku?

Siapa Aku?
Dr Leo Sutrisno

Yang seru, justru terjadi di meja belajar adik-adik. O, ya, aku punya dua adik. Yang tua perempuan sarjana bahasa asing, yang muda laki-laki, sarjana sastra nusantara. Kami bertiga belajar di satu meja besar yang berada di ruang tengah diterangi lampu gantung. Kadang-kadang ibu juga bergabung di situ. Karena kursi hanya empat, ayah duduk sendirian di ‘singga sana’-nya yang khas, sebuah kursi kayu panjang berkaki rendah. Ayah juga sering tidur semalaman di kursi itu. Tentu tanpa alas kasur. Kami hanya punya tikar.

Tampaknya, kedua adikku sedang membuka-buka jejaring medsos. Saya mendengar mereka bergantian membacakan kiriman dari kontak masing-masing. Pada umumnya, berisi ucapan duka cita disertai doa-doa untukku dan untuk seluruh keluarga. Sebagian juga berisi kata-kata penghiburan, ungkapan kagum, serta bangga,

Banyak juga yang mengirimkan gambar karangan bunga atau sticker yang indah. Aku tidak tahu apakah kebetulan atau ada yang ‘campur tangan’. Sebagian besar berupa bunga mawar merah jambu. Itu bunga dan warna favoritku.

Aku suka bunga mawar karena batangnya walau lentur tetapi penuh duri yang kokoh. Sebuah isyarat dapat melindungi diri sendiri. Karena itu, tidak jarang bunga ini dijadikan sebagai tanaman pagar. Jika sudah lebat, susah orang menembusnya.