“Mereka tersebar di empat penjuru angin” Sambungnya. “Jika pergi ke timur, kau akan berjumpa dengan keluarga yang melahirkan kawahmu. Jika ke selatan kau akan bertemu dengan keluarga yang melahirkan darahmu. Jika pergi ke barat, kau menuju ke daerah keluarga yang melahirkan ari-arimu. Jika ke utara kau akan disambut oleh keluarga yang melahirkan tali pusarmu. Jika menetap di sini kau bersama aku, ibumu!, yang melahirkan dirimu. Tentu juga di bawah asuhan bapak dan didampingi kedua adikmu ini”, kata ibu sambil merangkul kedua adik.
Di depan pintu pekarangan, kutengok sekali lagi rumah itu sambil berguman, “Akhirnya saat itu tiba, aku, Wie, minta pamit bapak, ibu, adik Mie dan adik Man. Kutinggalkan kegembiraan dan keceriaanku di rumah ini, sebagai penghiburan bagi kalian semua”.
Pancaran cahaya Matahari telah condong ke barat setinggi pundak manusia. Gerimis kecil membentangkan biang lala di kaki langit timur. Belalainya menggulung kami berlima mengarungi mega-mega putih, menembus batas cakrawala.
‘Selamat tinggal kampung halamanku”.
Pakem Tegal, Yoogya. 22-4-2020
