Kutinggalkan kamarku, ke luar menuju kandang kuda. Di sana bapak sedang memberi makan kuda. Kami mempunyi dua ekor, kuda hitam jragem – hitam legam dan kuda plangka-hitam-putih.Walaupun kedua-duanya menyenangkan, aku lebih dekat dengan si hitam. Ia kelihatan ‘dandy’. Apa lagi bila selesai disisir.
Aku sering membawanya jalan-jalan menyusuri jalanan kampung. Kadang-kadang ia kubawa ke lapangan. Di sana ia sungguh bergembira. Sering ia membawaku berlari ‘nyongklang’. Aku sungguh menikmati punggurnya yang sangat lentur.
Saat ini, bapak sedang menyapu halaman. Saya menikmati lukisan telapak kakinya yang tercetak di tanah yang bersih setelah di sapu. Berderet lurus rapi. Bekas telapaknya tampak masih normal, ideal orang sehat. Belum ada tanda-tanda ketuaannya.
Kuelus punggangnya beberapa saat. Ia menggeliat. Tampaknya, ia agak kaget. Ia hapal dengan sentuhan telapak tanganku karena setiap pulang Sabtu sore selalu kulakukan ini. Entah disengaja atau tidak, jadwal ayah menyapu halaman Sabtu sore itu kurang lebih sekitar kedatanganku dari kota.
