“Itu terjadi ketika Sjahrir ditahan bersama Sultan Hamid dan beberapa orang pimpinan Masyumi. Selama dalam tahanan, Sjahrir menderita sakit darah tinggi. Pada suatu hari, ketika berada di kamar kecil, ia jatuh pingsan. Satu-satunya orang yang melihat kejadian ini lewat jendela kamar tahanan Sjahrir adalah Sultan Hamid. Ia masuk ke kamar Sjahrir dan mengangkatnya dari atas kloset ke tempat tidurnya, dan kemudian membersihkan badannya dari semua kotoran yang melekat. Cerita ini saya dengar dari Sjahrir sendiri ketika saya mengunjunginya di tempat tahanan,” ujar Hamid.

Lanjutnya, “..setelah menceritakan semua itu, Sjahrir berkata, “Mid, kamu ingat pendapat saya tentang Sultan Hamid di masa lalu? Sejak peristiwa kepingsanan saya itu, saya perlu mengoreksi pendapat saya. Dia orang yang baik hati.” Ketika Sjahrir meninggal dunia dan Sultan Hamid hadir untuk mengangkat jenazahnya, saya merasa berkewajiban untuk menyampaikan pendapat Almarhum tentang dirinya, dan menyampaikan padanya penghargaan Sjahrir yang tinggi atas pertolongannya di tahanan yang diberikan secara spontan. Sultan Hamid tampak sangat terharu mendengarnya..”.

Kesan Hamid Algadri, ayah dari Nono Anwar Makarim ini, kemudian tak berpunggung badan dengan apa yang disampaikan oleh Sutan Sjahrir. Menurutnya, di buku yang ditulisnya tersebut, bahwa Sultan Hamid II adalah orang yang baik, bahkan seorang patriot. “.. Ia seorang yang berani mengambil risiko, tapi karena latar belakangnya, ia selalu menghadapi dilema dalam mengambil keputusan politik, yakni dilema antara sumpah setianya pada Ratu Belanda dan kepatriotannya yang memang alami. Dalam rapat-rapat gabungan komisi-komisi militer, ia tak jarang memihak sepenuhnya pada Republik, untuk kemudian dalam rapat yang lain menentang keras pendapat Republik,” tandas Hamid.