Menurut saya yang kurang adalah buku sebanyak 2 koli kami lampirkan ke Dewan Gelar yang beranggotakan belasan orang itu tidak dibaca detail. Kalau dibaca, maka insya Allah lurus nih kebengkokan sejarah. Maka dengan demikian menjadi mudah revisi UU Lambang Negara, Bahasa dan Bendera di mana UU tentu lebih tinggi daripada Keppres Pahlawan Nasional yang diributkan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono (semoga Allah mudahkan Beliau untuk membaca buku biografi Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara sekaligus bisa cross-check kepada saksi mata yang masih hidup).

Nah, buku Biografi Politik Sultan Hamid II Alkadrie diberikan pengantarnya oleh Dr (HC) Oesman Sapta. Sosok yang dikader Sultan Hamid II bahkan Sultan yang melamarkan OSO sehingga sakinah, mawaddah, warahmah sampai sekarang. OSO juga mengenang kehilangan mahkota “Buya” tersebut dengan menamai hotelnya dengan “MAHKOTA”. OSO selain memberikan kata pengantar juga memberikan testimoni sekaligus sebagai Wakil Ketua MPR/RI melaunching buku SH II memperingati seabad kelahirannya (1903-2013) di Pontianak Convention Centre.

IMG 20200617 WA0003

Finally, saya yakin misteri sejarah kelam Sultan Hamid II di NKRI cepat atau lambat akan tersibak terang benderang. Sebab “Alhaqqu wadzahaqal bathil,” janji Tuhan dalam wahyu-Nya, “Kebenaran pasti menang dan kebathilan akan dikalahkan.” Saya tidak paham kenapa sejarah yang sudah tercetak rapi bahwa Sultan Hamid II “pengkhianat negara” sudah tercetak di banyak buku sejarah bisa kabur kemudian perlahan pupus akibat ditemukannya naskah yang mana Soekarno mengakui bahwa Sang Perancang Lambang Negara adalah SH II.