Lalu oretan tangan aslinya juga keluar dari Yayasan Idayu yang dipimpin pengusaha percetakan seorang muallaf Tionghoa (di sini terasa bagaimana Mayor Jenderal Militer ini paham taktik dan strategi mengamankan barang bersejarah bagi negara di mana dia selalu diinteli 1×24 jam hidupnya karena sangat disegani dan ditakuti. Di simpan di percetakan agar kelak suatu saat naskah itu akan bicara dengan sendirinya). Karya asli ini sudah diarsipkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Saya sempat melihat goresan asli Sultan Hamid II di kediaman Sekretaris Pribadi SH II Max Jusuf Alkadrie. Alhamdulillah turut jadi saksi mata mata rantai sejarah Indonesia yang terputus.
Dengan ribut-ribut pernyataan Prof Dr AM Hendropriyono, mari kita pelajari lagi semua dokumen. Bagi yang mendukung silahkan bagi testimoni/dokumen apapun ke WA saya 08125710225. Bagi yang berpandangan negatif juga silahkan berikan argumen dan data serta faktanya. Saya jurnalis. Saya independen. Saya diajarkan oleh ilmu jurnalistik untuk cover both side. Adil. Jujur. Berimbang. Dengan tujuan naskah seorang jurnalis bisa mencerahkan, bukan membodohkan.
