Community

Belajar hidup tentram dari para ‘mbah putri’

Belajar hidup tentram dari para ‘mbah putri’

Oleh: Leo Sutrisno

Dalam bukunya berbahasa Jawa, “Ndherek Sang Dewi ing ereng-erenging redi Merapi”-Bersama Bunda Maria di lereng gunung Merapi, Romo Sindhunata mempertemukan pembaca pada para simbah yang hidup tentram di pedesaan lereng Merapi bagian selatan. Di antaranya adalah: Mbah Gondo, mbah Soma, mbah Tukinem, mbah Wir, mbah Jopawiro, dan mbah Darmo.

Keenam mbah putri (nenek) ini hidup di sejumlah desa wilayah pelayanan Romo Sindhu. Mereka orang-orang yang sederhana dan kadang-kadang luput dari pandangan orang pada umumnya.

Mbah Gondo adalah pemain musik gamelaan Jawa. Spesialisasinya adalah memainkan instrumen gender. Gender adalah intrumen akustik yang berbahan baku sederet bilah-bilah lempengan logam (besi atau kuningan) yang dibagin tengahnya berupa cekungan hampir setengah bola dari digantungkan berdeter di atas sederet tabung bambu dengan seutas tali di kedua ujung bilah.

Cara memainkan gender adalah dengan memukul puncak cekungan bilah dengan pinggiran bilam cakram kayu yang bertangkai. Bunyi yang dihasilkan sangat sederhana, neng-ning-nang-nung, saja. Namun, ritme yang dihasilkan sungguh dapat menengkan hati pendengarnya. Pembaca dapat mencobanya lewat penelusuran ‘gender gamelan Jawa’ di youtube.

Bunyi NENG-NING-NANG-NUNG ini mengandung makna filosofi hidup. ‘NENG’ bermakna ‘me-NENG-ing pikir’- berpikir dengan tenang. Dijauhkan dari ‘negative thingking’. Ketiadaan negative thinking membuat ‘e-NING-ing manah, hati yang hening.