Community

Belajar hidup tentram dari para ‘mbah putri’

Belajar hidup tentram dari para ‘mbah putri’

Dalam keheningan hati itu, mbah Gondo dapat memahami tentang ‘we-NANG-ing jumenengan. Ia mampu menyelami jati dirinya. Siapa aku? Dari mana asalku? Mengapa aku di sini saat ini? Mau kemana aku?, dsb.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini, membawanya pada pemahaman ‘papan du-NUNG-ing kasunyatan’, pemahaman tentang hakikat hidup ini. Dalam stuasi seperti itu, maka mbah Gondo dapat merasakan hidup yang tentram.

Mbah Soma adalah seorang nenek yang cukup kocak dan ceria. Ia menyodori semacam tekak-tebakan. ‘Benda apa yang selalu datang terlambat dan pulang cepat?’ Jawabannya adalah ‘gigi’. Dibanding organ-organ lain, gigi muncul paling lambat. Tetapi, sebelum organ-organ lain rusak, gigi rontok lebih dahulu. Dari hedarian gigi itu ada filosofi kesabaran.

Ketika masih bayi, untuk memeras ‘ASI’ hanya mengandalkan kekuatan gusi yang halus. Bayi itu harus bersabar. Tidak bisa terburu-buru. Ketka masuk manula, gigi sudah mulai lepas. Ia juga tidak dapat memakan segala macam makanan yang tersedia. Manula juga harus belajar sabar lkarena telah menjadi ‘macan ompong’. Dalam kesabaraan tanppa gigi itu pula hidup mbah Soma terasa tentram.