Mbah Tukinem lain lagi. Dari kecil ia buta karena kecelakaan. Namun, justru dalam kebutaan fisik itu, hatinya dapat menangkap ‘sinar terang’ yang menenangkan. Ia menjadi semakin dapat memahami hidupnya. Dalam tingkat seperti itu, hidupnya pun menjadi tentram tanpa keluh dan kesah.
Mbah Wir adalah penjual sayur keliling dari desa ke desa. Dagangannya dimasukkan dalam ‘tenggok’ yang digendong dipunggungnya. Jadi, sangat terbatas. Walau semakin banyak pembeli, ia tidak pernah memperbanyak dagangannya. ‘Setenggok cukup’, katanya. Begitu habis, ia langsung pulang. Dagangan setenggok cukup memberikan filosofi tentang ‘kecukupan’. Dengan berani mengatakan ‘sudah cukup’, hidupnya menjadi tenang, tentram.
Kisah mbah Jopawiro tidak mengesankan kehidupan yang susah. Bahkan, dalam skala pedesaan, dapat disebut berkecukupan. Enam anaknya sudah berkeluarga dan berkecukupan. Namun, anak lelaki, si bungsu, hilang tanpa kabar sejak jaman Jepang. Setiap malam selalu memikirkan si anak hilang ini. walau tetap juga mendoakan anak-anaknya yang lain berserta para cucunya. Baginya, ada sesuatu yang ‘hilang’.
Perasaan kehilangan ini, membawanya ke arah sikap untuk menerima bahwa dalam hidup di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesediaan menerima kekurangannya itu membawa hidup mbah Jopawiro menjadi tentram.
