Langit di atas Kapuas

Sepeda Bang Noh

Sepeda Bang Noh

Sepeda mini merah Bang Noh melewati geretak depan rumah seperti kilatan masa kecil yang tak pernah hilang dari ingatan. Angin membelai lembut pepohonan di halaman. Dalam bayangan mata kecilku, siang itu bukan sembarang siang. Itu adalah waktu ketika bapak biasanya tidur siang, dan firasatku kuat bahwa Bang Noh sedang pulang dari petualangannya.

Bang Noh adalah anak muda Sungai Raye Dalam yang paling jago bersepeda. Konon, ia dijuluki “campin” karena berkawan dengan Maruki Matsum, teman sekolahnya di Mujahidin. Dari Maruki itulah, Bang Noh belajar trik-trik hebat: melepaskan tangan sambil mengayuh, mengangkat stang tinggi-tinggi, dan melaju kencang tanpa goyah sedikit pun. Kadang aku membayangkan, sepeda Bang Noh bukan hanya kendaraan, tapi semacam kuda balap dalam arena Formula 1.

Di kampung, aksi Bang Noh menjadi tontonan dan pelajaran. Bahkan aku sendiri, dengan sepeda udangku yang kini sudah patah, mencoba meniru setiap gayanya. Di depan rumah, ada papan tanjakan tempat aku dan teman-teman berlatih. Namun tidak semua anak bisa seperti Bang Noh.

Kampung Serdam terbagi dua: budak ilek dan budak ulu. Budak ilek tinggal di arah laut, sedang budak ulu dari batas rumah Udin Wak Manta hingga rumah Tok Tarik. Tapi semuanya tunduk pada satu guru besar sepeda: Bang Noh.