Setelah salat, semua kembali ke rutinitas: makan malam bersama, membentang tikar, cuci piring, menyimpan ke lemari. Lalu rumah hening. Hening yang menyeramkan. Biasanya, kalau pagi ada kejadian yang bikin bapak marah, malamnya kami semua bisa kena getahnya.
Lalu bapak bertanya, “Oi, ade nengok pendeng aku ndak?” Kami semua saling menatap. Iya. Ini isyarat buruk. Bang Noh pun tahu. Dia sudah siap dengan training hijau, kaus kaki panjang, dan wajah penuh strategi.
“Ape salah kao?” tanya bapak. “Tau Pak.” lirih jawabnya. Semua seperti sidang terbuka. Dari siapa, ke mana, berapa habisnya uang—semua ditanya. Ternyata uang SPP dua bulan habis untuk “campak gelang” di PRP. Hadiah: lemon sebotol dan Bimoli sekilo. Waktu itu kami semua senang. Ternyata itu hasil penyalahgunaan anggaran.
Plak-plak-plak. Rotan melayang. Aku pikir aku bebas. Tapi prinsip bapak: satu salah, semua kena. Kak Ita yang tidak tahu apa-apa pun kena.
Bang Noh yang aktor ulung, bersandiwara. Sebelum rotan menyentuh kulitnya, ia sudah menjerit-jerit. Aku hampir tertawa, tapi menahan. Namun bapak tahu. “Tadak nanges kau yeh? Malah ketawak?” Katanya sambil ikut nyengir.
