Aku belajar dari caranya melewati geretak tanpa suara. Pedal harus dihentakkan dari rumah Wak Abu-Wak Lidek, dan saat sampai depan rumah Pak Kitut, ban harus pas berada di tengah papan kayu belian. “Sebab di bagian tengah ade tulang kayuk beliannye. Papan tak akan begetar acam senar gitar,” kata Bang Noh suatu hari, mengeluarkan teori sepeda dengan serius layaknya insinyur jembatan.
Gerakan tubuhnya ketika bersepeda itu ibarat penari bejepen: bokong sedikit terangkat, kaki satu berdiri di atas engkol, satu lagi santai. Saat menuruni tanjakan jembatan melengkung seperti huruf U terbalik, dia mengerem dengan hati-hati. Suara rem nyaris tak terdengar. Karena kalau terlalu berisik, bapak bisa bangun dari tidurnya.
Maruki Matsum melatih Bang Noh di Lapangan Mujahidin, tempat ia berlatih melaju dalam senyap. Bahkan ada papan loncatan yang membuat sepeda bisa terbang, seolah itu burung layang-layang.
Ketika sepeda Bang Noh turun dari geretak sore itu, dari balik jendela aku langsung memberi kode: jari menunjuk ke bawah tojang. Itu tanda. Bang Noh mengangguk. Ssst! Sepedanya langsung diselipkan di bawah pohon bunga. Di balik pohon puring merah, berdiri Bougenville ungu dengan duri setajam jarum. Pernah aku berdarah karena tertusuk durinya. Wak Jemah menyebutnya “makdarah colok”.
