Langit di atas Kapuas

Sepeda Bang Noh

Sepeda Bang Noh

Rotan, pendeng, dan cubitan mengalir bagai ritual keluarga. Tapi kami tahu, itu tanda sayang. Bapak selalu memukul setelah perut kami kenyang. Tidak pernah sebelum makan. Sebab katanya, kalaupun kami ngambek, perut sudah diisi. Tak ada risiko pingsan karena lapar.

Usai semua, kami masuk kamar. Di sanalah aku tahu, Bang Noh memang aktor tulen. Ia sudah siap. Training panjang, baju panjang, kaus kaki bola semua jadi pelindung. Bahkan celana pendek dan dalam pun masih utuh. Dia pura-pura saja. Sandiwara Radio Tutur Tinular hidup di rumah kami.

Pelajaran malam itu sangat berharga: taktik dan strategi penting sebelum sebuah peristiwa!

Aku terbangun, menatap langit dari kasur besi. Awan putih berarak. Aku harus lulus ujian. Bapak guru di SMPN Teladan. Aku sudah janji pada Pak Sam. Aku ada di buku hitam.

Dengan semangat, kuturuni tempat tidur. Mengenakan baju Megaloman, kuambil tali sampan Pak Usu. Dengan pengayuh Wak Bayo, aku mendayung cepat. Melewati dermaga Wahdah, rumah Wak Abu, rumah Wak Majed, rumah Wak Bidding, Wak Leddang, Tok Itik…

Sampai ke rumah Mak Ento. Tali kutambat. Sabun cap Sunlight, sabut kelapa, dan sabun B-29 masih di tangga mandi. Aku naik papan belian, sambil bersiul penuh semangat.