teraju.id, Pontianak – Memperjuangkan Hari Berkabung Daerah (HBD) yang diawali dengan serangkaian ikhtiar pers mengawal peristiwa genosida Jepang 1942-1944 tak pernah berhenti. Peran Watch Dog berlaku.
Adalah wartawan senior H Abdul Halim Ramli meliput penemuan tulang belulang berserakan di lokasi “killing field” tentara Dai Nippon Jepang di Desa Kopyang, Mandor. Tempo Doeloe, 1974 masih wilayah Kabupaten Pontianak dan sejak pemekaran, daerah Mandor masuk demarkasi Kabupaten Landak.
HA Halim Ramli tak hanya meliput di Tempat Kejadian Perkara (TKP) tapi juga wawancara mendalam bersama keluarga korban. Terutama ahli waris dari banyak kesultanan. Termasuk anak-cucu, istri korban di kalangan cerdik cendikia. Tercatat 21.037 korban jiwa dalam genosida yang tak banyak diketahui jagad sejarah kolonialisme se-Nusantara. Sebab goa Jepang di Padang jauh lebih dikenal buku buku sejarah nasional ketimbang Tragedi Mandor.
HA Halim Ramli punya peran besar dalam wawancara bersama Gubernur saat itu mantan KNIL, pernah menjadi bawahan Sultan Hamid II Alkadrie yang juga ayahnya, Sultan Muhammad adalah korban kebiadaban Jepang.
Gubernur Kadarusno dengan background militerlah yang merehabilitasi lubang penguburan massal menjadi Makam Djoeang Mandor.
