in

11 Juli, Sehari Sebelum 107 Tahun Kelahiran Sultan Hamid–Semua Pihak “Duduk Bersila” Kaji Secara Ilmiah untuk Anugerah Gelar Pahlawan Nasional

pahlawan nasional

teraju.id, Nusantara— Dua hari lagi seminar plus webinar nasional MPR RI menyerap aspirasi WNI dalam rangka pengusulan Sultan Hamid II Pahlawan Nasional. Akan tampil sebagai narasumber MPR RI asal Fraksi Nasdem adalah H Syarief Abdullah Alkadrie, Charles Meikyansyah, S.Sos, M.I.Kom dan Yessi, SE (putri Bupati Melawi–anggota DPR-MPR termuda). Ketiganya akan menyerap aspirasi lokal Kalbar dan Nusantara untuk dibawa ke badan kajian serta perjuangan legislasi. Legislator atau wakil rakyat akan berhak memanggil Presiden atau Menteri dalam rangka kenegaraan sesuai amanah undang-undang.

Pada sesi kedua, inti dari penelitian ilmiah mengenai kesejarahan Sultan Hamid yang paling kelam. Yakni kasus pidana. Untuk ini akan tampil peneliti pidana Hamid, dikupas dari putusan Mahkamah Agung yang jarang diulas buku-buku sejarah. Padahal fakta-fakta hukum ketata-negaraan jelas buas di sana. Kemudian ada penulis buku tiga kali cetak ulang di Kanisius, berjudul Sejarah yang Hilang. Sang penulis, Mahendra Petrus adalah ahli dokumen dinas dan lambang negara dari Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. Ia akan kupas detail soal Westerling yang dikajinya dari persepsi Indonesia dan Belanda.

Di sesi ketiga adalah sesi masukan para pakar yang trending topik di media massa. Yakni Dr Anhar Gonggong, Prof Dr AM Hendropriyono, Prof Meutia Hatta, Prof Dr Djoko Suryo (UGM), dan Presiden AGSI, Sumardiansyah Perdana Kusuma. Ini ibarat “kita duduk bersila” membedah sejarah kelam 1945-1950 yang jarang diungkap buku-buku sejarah. Acara akan dibuka Gubernur Kalbar H Sutarmidji, SH, M.Hum sekaligus keynote speaker. Gubernur adalah wakil presiden di provinsi Kalbar sesuai UU pemerintahan daerah bahwa pemerintah provinsi adalah wakil pemerintah pusat di daerah. (kan)

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Masyarakat Usulkan Buku Biografi Politik Sultan Hamid Dicetak Ulang

Amunisi Komunikasi