in

Amunisi Komunikasi

IMG 5055 copy


Oleh: Ambaryani

Amunisi komunikasi, atau lebih sederhananya saya menyebutnya sebagai bekal dalam bergaul, berkomunikasi. Karena dengan mengetahui bahasa yang digunakan penduduk setempat akan memudahkan proses komunikasi dan mendekatkan diri.

Saat menjadi mahasiswa Strata 1 ini salah satu yang saya pelajari dan pratekkan ketika harus ada kegiatan lapangan. Benar, ilmu ini jitu. Dan saya praktekkan hingga kini. Seingat saya, dulu lidah saya sangat kaku berbicara bahasa-bahasa baru. Atau sebenarnya lebih tepatnya saya tidak percaya diri (PD) dan itu mengakibatkan munculnya pembatas dalam diri saya dan lebih lambat dalam proses belajar bahasa baru.

Akan tetapi saat sekat itu saya buang jauh-jauh, dan berpikir bodo amat, coba saja, tidak usah banyak berpikir kalau nanti salah, kalau nanti tidak tepat pengucapannya, kalau nanti kedengaran lucu dan lain sebagainya. Justru dengan begitu (coba saja) lidah akan terlatih.

Beberapa kawan heran saat modal nekat saya keluar dan mempertanyakan kejelasan darah asal saya. Sebentar berbahasa Jawa, sebentar bahasa Melayu Sambas, sebentar bahasa Melayu Kapuas Hulu.

“Orang apa sebenarnya Kakak ni?” itu pertanyaan yang muncul.

PSikologis orang yang baru kenal akan menjaga jarak dan menutup diri. Komunikasi akan lebih kaku. Akan tetapi jika masuk menggunakan bahasa daerah asal, jarak itu dengan sendirinya melebur. Komunikasi akan berjalan lebih luwes. Body language akan otomatis berubah juga. Tidak percaya, coba saja! (*)

Written by Ambaryani

Ambaryani, Pegawai Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Lulusan Program Studi Komunikasi STAIN Pontianak. Buku berjudul; 1. Pesona Kubu Raya 2. Kubu 360 adalah buku yang ditulisnya selama menjadi ASN Kabupaten Kubu Raya

pahlawan nasional

11 Juli, Sehari Sebelum 107 Tahun Kelahiran Sultan Hamid–Semua Pihak “Duduk Bersila” Kaji Secara Ilmiah untuk Anugerah Gelar Pahlawan Nasional

WhatsApp Image 2020 07 09 at 15.09.30

Hidup-Mati Perempuan di Kursi Pimpinan DPR