Berbeda dari workshop sastra pada umumnya, kegiatan ini menghadirkan PANTUNin AI, sebuah inovasi yang mempertemukan kecerdasan buatan dengan kekayaan sastra Melayu. Teknologi tersebut dikembangkan berdasarkan pola berpikir dan karya-karya maestro pantun Kalimantan Barat, Agus Muare. Melalui aplikasi itu, pengguna dapat membuat pantun dengan tetap memperhatikan kaidah rima Melayu, memanfaatkan bank pantun, hingga mengembangkan karya sastra menjadi konten visual yang lebih menarik.
Bagi Agus Muare, teknologi tidak boleh menjadi alasan hilangnya identitas budaya. Justru sebaliknya, teknologi harus menjadi kendaraan baru agar pantun tetap hidup. “Karakter dan kaidah pantun Melayu jangan sampai hilang. Teknologi boleh berubah, tetapi marwah pantun harus tetap dijaga,” ujarnya.
Pesan itu ia tutup dengan sebuah pantun yang sontak mendapat tepuk tangan para peserta.
Indah lembayung lebat berseri,
Janganlah layu kering di taman.
Jaga adat payung negeri,
Resam Melayu mengiring zaman.
Sementara itu, Kepala OJK Kalimantan Barat Rochma Hidayati mengingatkan bahwa tantangan masyarakat saat ini bukan hanya derasnya informasi digital, tetapi juga ancaman pinjaman online ilegal, judi online, hingga berbagai modus penipuan keuangan. Karena itu, literasi finansial perlu ditanamkan sejak dini. Menurutnya, pantun dapat menjadi media komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan bijak mengenai pentingnya menabung, mengelola keuangan, serta menghindari investasi ilegal.
