Selama sehari penuh, para guru tidak hanya mempelajari anatomi pantun, tetapi juga berlatih memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyusun materi pembelajaran yang kreatif. Konsep workshop memang dirancang agar guru mampu mengintegrasikan pantun, teknologi, serta literasi digital dan finansial ke dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Di penghujung kegiatan, satu pesan terasa paling kuat. Budaya dan teknologi ternyata tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru bisa berjalan berdampingan, selama teknologi digunakan untuk merawat akar budaya, bukan menggantikannya. Dari Mempawah, para guru pulang bukan hanya membawa aplikasi pantunin AI di telepon genggamnya, tetapi juga membawa keyakinan baru: bahwa pantun masih memiliki masa depan, bahkan di era kecerdasan buatan.
