Pernyataan yang hampir sama juga disampaikan oleh Andri (35) selaku pedagang sayuran keliling. Andri mengaku bahwa dagangannya cukup banyak peminat karena sebagian besar orang sudah malas pergi ke pasar karena himbauan social distancing.
“Cuman hasilnya sama aja. Lah wong, barang-barang juga pada naik. Jadi untung saya juga tipis. Kadang malah ndak nutup, karena beli bensin, belum lagi ada yang utang.”
Andri menambahkan, ia pun tidak bisa menampik bahwa covid-19 merubah sedikit banyak pendapatannya. Belum lagi, banyak ibu-ibu yang ngutang karena suaminya yang tidak mendapat uang akibat penyebaran virus ini.
“Semua serba dirugikan. Kemarin dengar ada himbauan untuk menghentikan seluruh kegiatan di luar rumah. Di sini kalau dihentikan, terancam nggak makan semua orang.”
Mbak Nur selaku penjaga kantin sekolah pun, merasakan dampak besar untuk keluarganya. Dikarenakan sekolah libur dan sudah hampir satu bulan ini, Mbak Nur harus pintar mencari sampingan agar dapurnya tetap ‘ngebul’.
“Saya malah belum ada pemasukan sama sekali karena sekolah libur hampir sebulan. Kalau nitip kue ke warung-warung, ndak bisa banyak juga, karena takut rugi. Bahan pada mahal.”
