“Proses seperti itu menambah biaya. Khususnya akomodasi sehingga terasa mahal,” kata Syahnural yang masih mengenakan pakaian putih dokter kekhasannya. Jika biaya dari proses bayi tabung Rp 60-80 juta, maka dengan biaya akomodasi pulang pergi (PP) Jakarta-Pontianak, maka bisa mencapai angka di atas 80 juta. Sekarang, lanjutnya, sejak Agustus 2016, RS ABK melakukan terobosan baru. Bahwa RS ABK sudah bisa menangani masalah infertiliti sejak masalah A sampai masalah Z. “Jika dulu pengambilan oocid atau sel telur yang siap dibuahi sel sperma di Klinik Teratai, Jakarta, maka kita di RS ABK sudah bisa melakukannya semua,” timpal Syahnural.
Proses bayi tabung bukanlah bayi yang disimpan pembesarannya di dalam tabung, melainkan penyatuan sel telur dan sel sperma dengan bantuan teknologi kedokteran. Kedua sel calon makluk hidup baru yang bertumbuh menjadi zygot kelak kemudian ditanamkan kembali ke dalam rahim sang ibu. Pertumbuhannya kemudian ditandakan dengan pemeriksaan kehamilan biasa. “Tingkat keberhasilan bayi tabung saat ini juga terus meningkat seiring kemajuan sain dan teknologi,” kata Syahnural yang rajin meningkatkan pengetahuan empiriknya sampai ke mancanegara. Termasuk pengadaan alat-alat kedokterannya.
