teraju.id, Pontianak – Setelah pantun diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Tak Benda kelas dunia maka pantun harus berkemajuan. Tak cukup sebagai penabalan pengakuan WBTB saja, tetapi ia hadir di tengah-tengah masyarakat dalam kehidupan. Untuk itu terbit buku Pantun Asia Tenggara melalui penerbit Obor oleh Asosiasi Tradisi Lisan Pusat yang menjadi mitra terpercaya lembaga pendidikan, sain dan kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (Unesco).
Buku ini saya terima dari Ketua ATL Pusat yang juga editor buku Pantun Asia Tenggara, Dr Pudentia MPSS, M.Hum pakar sastra lisan Universitas Indonesia dan calon kuat kurator WBTB Unesco dari Asia Pasific. Buku diperoleh dalam Bimtek Asesor Ahli WBTB yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan pada 25-30 Nopember lalu. Buku yang padat isi. Mulai dari alas historis pantun WBTB Unesco, filosofi pantun, etika pantun, hingga kreativitas sebagai masa depan pantun menembus zaman.
Buku inilah yang saya serahkan kepada Gubernur Ria Norsan, Selasa, seusai pengajian subuh di Mesjid Adzakirin, persis di depan rumah pribadi beliau kawasan Jalan Pangeran Natakusuma.
Dengan wajah ceria beliau menerima buku dan mempersiapkan Kalbar sebagai tuan rumah peringatan Hari Raya Pantun bertempat di Istana Rakyat, Pendopo Gubernur, 16-17 Desember 2025.
Tema utama Hari Raya Pantun yakni gabungan Hari Pantun Dunia dan Hari Pantun Nasional adalah, “Pantun Bring the World Peace”. Pantun membawa damai dunia. Dan sempat kami ulas, bahwa pantun yang sopan dan santun menjadi jati diri bangsa Timur, sehingga sejak tempo doeloe selalu rukun, ajeg, gotong royong. Begitupula pantun membahagiakan dimulai dari diri sendiri, desa, kota, provinsi, sampai negara negara berpantun sedunia. Serumpun Berpantun.
