“Suami hanya berkerja sebagai tukang bangunan dan kadang juga tidak berkerja. Penghasilan pokok satu-satunya didapat dari warung ini. Tapi bukannya kami tidak takut tertular virus, minimal sebelum membuatkan pecal dan sesudah menerima uang dari pelanggan, kami cuci tangan dulu,” tambah Mak Anis (54), salah satu penjual pecal.
Beberapa gazebo juga masih terisi pengunjung walaupun sangat jarang. Alasan mereka berkunjung karena begitu membosankan seharian #dirumahaja dengan aktivitas yang sama.
“Apalagi saat ini saya diberhentikan sementara dan dirumahkan sampai toko buka dan dapat berkerja kembali. Harapannya pandemi cepat berlalu karena pendapatan kami bergantung berakhirnya COVID-19 ini,” harap Wida (21) yang ditemui tengah berkunjung.(tor)
