Di situlah letak pembeda Pantunin AI. Algoritmanya tidak dibangun dari data umum semata, melainkan “diinjeksi” dari karya-karya maestro pantun Agus Muare. Hasilnya, pantun yang muncul tidak terasa mekanis: ada pola, ada irama, ada rasa. “Pantun yang dihasilkan bukan sekadar rangkaian kata. Ada struktur, ada nyawa. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih hidup,” kata Yaser.
Di tengah dunia digital yang serba cepat dan instan, Pantunin AI mengambil jalan berbeda: menghidupkan kembali tradisi lisan ke dalam ruang digital yang lebih personal.
Bagi Agus Muare, ini bukan soal aplikasi semata. “Pantun bukan sekadar susunan kata, melainkan marwah bangsa Melayu. Lewat aplikasi ini, kita ingin memastikan pantun tetap berdiri tegak, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai identitas yang hidup di zaman sekarang,” ujarnya.
Ia juga melihat persoalan utama bukan pada minat, tapi pada keberanian. Banyak anak muda, kata dia, sebenarnya tertarik. Hanya saja mereka ragu memulai. “Ada ketakutan salah rima, salah suku kata. Aplikasi ini hadir untuk memutus rasa takut itu. Supaya generasi muda bisa mulai berpantun dengan cara yang lebih ringan, lebih santai… dan tetap membahagiakan,” katanya.
Secara teknis, Pantunin AI dibuat sesederhana mungkin. Pengguna cukup memilih tema lalu memasukkan kata kunci, dan dalam hitungan detik, pantun akan tersaji.
