Dari situ, pengguna bisa memakainya untuk banyak hal, dari membalas chat, membuat caption media sosial, hingga kebutuhan konten kreatif.
Namun bagi Yaser, ini bukan sekadar soal kemudahan. “Digitalisasi adalah cara kita menjaga warisan. Dengan aplikasi ini, pantun tidak lagi hanya hidup di panggung pengantin atau acara adat, tapi masuk ke WhatsApp, Instagram, TikTok. Ia jadi bagian dari keseharian,” ujarnya.
Peluncuran ini sekaligus menjadi penanda: inovasi tidak harus lahir dari kota besar. Dari Kalimantan Barat, Pantunin AI mencoba menawarkan arah baru: teknologi yang tumbuh dari akar budaya lokal, namun punya peluang menjangkau lebih luas.
Ke depan, selain penyempurnaan kecerdasan Pantunin, juga masih akan menambahkan fitur komunitas, kurasi pantun pengguna, hingga integrasi lintas platform. “Ini baru awal. Kami ingin ini jadi gerakan bersama,” kata Yaser.
Dukungan pun mulai berdatangan. Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, bahkan menyampaikan apresiasinya lewat pantun. Sementara pengamat media sosial Ismail Fahmi memberi catatan sederhana: perbanyak distribusi di media sosial agar rasa penasaran publik tumbuh.
Dan mungkin, memang di situlah kuncinya. Pantun tidak perlu dipaksa kembali. Cukup dihadirkan… di tempat orang-orang sudah berada. Di layar. Di genggaman. Di keseharian.
