Berita

Jejak Mayor Kwee Hoe Toan di Parit Mayor

Jejak Mayor Kwee Hoe Toan di Parit Mayor

Kwee muda berulang kali disebut lebih Melayu daripada Tionghoa, sesuatu yang tidak merupakan kualifikasi untuk menjadi opsir Tionghoa, dan ia dikenal sangat dekat dengan istana Pontianak (Laporan Politik 1866, ANRI BW 2/4—224).

Keluarga Kwee akhirnya mengalami kejatuhan pada masa-masa sulit.

Kwee Hoe Toan dan seorang kapitan Hakka, Then Sioe Lin, terlilit hutang pada pemerintah kolonial Belanda sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam pacht candu pada 1850-an, suatu dekade ketika perdagangan madat hancur lebur akibat penyelundupan dan kemerosotan dalam penambangan emas.

Nasib keluarga ini semakin terpuruk pada 1880, ketika Kwee Kom Beng diberhentikan dari jabatannya.

Situasi keuangan Lioe A Sin, sang kapthai Lanfang, juga mengalami kemunduran karena berspekulasi dalam pacht candu. (Laporan Politik 1859, ANRI BW 1/10).

Kesempatan bagi orang Tionghoa untuk meraup peruntungan besar dan mungkin pengaruh dari perdagangan candu nampaknya semakin berkurang karena monopoli tersebut mengalami kemunduran pada paruh kedua abad ke 19.

Mengenang masa keemasannya, Kwee Hoe Toan kini meninggalkan jejak silam dan dikenang keberadaannya dengan Kampung Parit Mayor tempat di mana sang mayor ini dipusarakan di sana.

(Dari berbagai referensi, penulis Syafaruddin Dg Usman, peminat sejarah kontemporer di Pontianak)