Berita

Kebun Pantun

Kebun Pantun

Sudah lama ndak ke kebun. Begitu sampai, disambut sebuah nangka muda yang siap disayur.

Rasanya, fabiayyi alaa irobikuma tukadzibaan…maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ya ndak adalah…semua nikmat-Nya kalau dicatit one by one, gak akan mampu menulisnya. Walaupun lautan menjadi tinta dan ditambah 7x lagi banyaknya. Ora isso. Isso’e modharrr…

Lihat lagi sekeliling: jambu bol sedang mekar anak-anak buahnya. Bersusun-susun. Berseri. Insya Allah bisa panen saat Syawal. Lebaran Idul Fitri. Three month later.

Juga si Pohon Salam. Rimbun berbunga dengan aroma tak tergambarkan. Sebab ia terbaukan hehehe….ya semacam parfumlah 🙂 Hanya tak sekuat Jasmin. Melati.

Sementara cuat cuit burung menyapa pagi yang sedang menyala. Berjingkat jingkit bersiul siul sambil merapal doa.

Konon menurut ilaihi, semua makhluk memuji pencipta. Dialah Sang Kholiq. Dan burung sholat atawa sembahyang dengan cara mengembangkan kedua sayapnya. Nah kita? Semoga bisa menyesuaikan diri.

Subhanallah. Maha Suci Allah. Tuhan YME. Yang tertera pada sila pertama NKRI: Pancasila.

Ternyata Pancasila secara lahir-batin hadir dan mengalir ke persada bumi Khatulistiwa. Zamrud Arwana. Mahligai Surga yang terlempar dari antariksa ke planet bumi yang setitik debu ini.

*

Buah delima dekat perigi
Buah durian perhatikan duri
Demikian secarik artikel pagi
Bak pelangi runtun menari

*

Salam Serumpun Berpantun:
Silang Sempurna
Kata Berkait
Serumpun Berpantun