“Salah satu komponen penting dalam penghitungan IPM adalah sektor pendidikan. Secara khusus, indikator pendidikan yang perlu ditingkatkan adalah ‘Lamanya Harapan Belajar’ bagi anak usia 18 tahun. Saat ini, rata-rata lama sekolah di Kalbar masih rendah, yang mencerminkan kurangnya kesempatan pendidikan bagi masyarakat,” terang Sutarmidji.
“Kondisi ini tidak lepas dari kenyataan bahwa selama 30 tahun terakhir, pembangunan sektor pendidikan di Kalimantan Barat masih kurang mendapat perhatian serius. Namun, dalam lima tahun terakhir, masyarakat Kalbar mulai melihat adanya kemajuan signifikan pada capaian IPM, terutama pada aspek pendidikan, sebagai hasil dari berbagai upaya peningkatan fasilitas dan akses belajar yang sudah saya lakukan,” tambahnya.
Ia melanjutkan, IPM Kalbar terus menunjukkan tren peningkatan positif selama lima tahun terakhir, meskipun lajunya berfluktuasi. Pada 2020, IPM Kalbar berada di angka 68,76, termasuk dalam kategori tinggi tetapi masih mendekati batas bawah.
Kemudian pada 2021, IPM naik menjadi 68,99 dengan pertumbuhan 0,33%, yang menunjukkan adanya perbaikan meskipun kenaikannya relatif kecil. Kenaikan yang lebih signifikan terjadi pada 2022, ketika IPM mencapai 69,71 dengan pertumbuhan 1,04%, menandakan pemulihan lebih cepat dari dampak pandemi Covid-19.
“Laju pertumbuhan semakin menguat pada 2023, mencapai 1,09%, sehingga IPM naik ke 70,47. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi dalam periode 2020 – 2024, menandakan adanya peningkatan signifikan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” katanya.
Lanjut pada 2024, IPM Kalbar meningkat lagi menjadi 71,19, dengan pertumbuhan 1,02%. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2023, capaian ini tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 2020 – 2023 (0,82%). Peningkatan ini juga menegaskan bahwa Kalbar berhasil mempertahankan tren positif setelah pemulihan ekonomi dan pendidikan pasca pandemi.
