teraju.id, Pontianak – Sejumlah rekan bertanya, apa yang disampaikan dalam khutbah Jumat, 19 Desember, di Masjid Alhijrah—masjid kebanggaan DPP MABM Kalimantan Barat. Pertanyaan itu wajar. Sebab khutbah bukan sekadar ritual lisan, melainkan ikhtiar menyapa nurani. Menyentuh iman. Mengingatkan peran.
Khutbah dimulai sebagaimana mestinya: salam, rukun, pujian kepada Allah Rabb semesta alam, dan shalawat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW—pembawa rahmat, bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh alam.
Lalu masuk ke tema: keadilan lingkungan.
Dan di titik itulah wakaf produktif menemukan relevansinya.
Sebab apa yang kita saksikan akhir-akhir ini bukan semata bencana alam. Ia adalah balasan ekologis atas ketidakadilan yang kita lakukan. Alam yang dizalimi, membalas dengan cara yang tak pernah setengah-setengah.
Dalam sehari semalam, badai mengamuk. Dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Hujan deras, angin kencang, rumah runtuh, jalan putus, kehidupan luluh-lantak. Tapi bukan itu saja. Tanah tak lagi kuat menahan air. Lapisan humus hanyut. Pohon-pohon berakar dangkal tumbang—buah dari perizinan yang rakus, legal maupun ilegal.
Atas nama pembangunan, nilai ekonomi dikejar. Namun alam menagih. Sekejap saja, kerusakan infrastruktur ditaksir hampir seratus triliun rupiah. Belum lagi ribuan nyawa yang melayang. Nilainya tak terhitung.
