Berita

Ketika Peserta Rumah Literasi Sulit Menulis, Apa yang Dilakukan?

Ketika  Peserta Rumah Literasi Sulit Menulis, Apa yang  Dilakukan?

Saya mengevaluasi kegiatan sebelumnya. Memastikan siapa yang hadir dan berkarya, menemukan masalah dan  akarnya. Sembari berjalan, beberapa peserta terlambat menyusul kemudian.

Tindakan pertama sebagai terapi, saya menutup pintu bagi yang terlambat lebih dari 10 menit. Disiplin adalah kata kunci dalam menulis dan bahkan dalam hidup.

Setelah itu baru kemudian memberikan pencerahan dan motivasi. Memberikan kabar gembira dan ancaman. Peserta sejauh yang teramati mencerna. Mereka “dipaksa” mengingat-ingat dan membuat renungan. Mereka diminta berjanji dan berkomitmen. Mendeklarasikan kesadaran agar menyerap ke dalam alam kesadaran. Caranya, saya meminta mereka menyebutkn beberapa manfaat yang mereka dapatkan dari kelas hari ini. Satu per satu mereka menyampaikan atau menyatakan apa manfaat yang diperoleh. Secara lisan lebih dahulu, kemudian ditulis.

Dengan cara ini evaluasi dan motivasi disisipkan. Mereka juga mendapatkan bahan untuk tulisan. Tanpa mereka sadari mereka sudah menulis karangan argumentatif, dengan cara yang sistematik.

Ketika mereka mulai menulis, ruang kelas terasa lengang. Tak ada suara terdengar. Wajah-wajah peserta terlihat cerah. Semangat terlihat dan aura positif terpancar. Lorong gelap yang beberapa menit lalu terbayang, kini berganti ruang terang bercahays. Saya meninggalkan mereka dengan lega. Dada terasa berisi kepuasan dan kenikmatan.

Dari pertemuan itu saya berkesimpulan ada peserta perlu dikembalikan ke pangkal jalan. Mereka perlu disemangati, terus menerus.