Secara teknis memang memudahkan mahasiswa, karena menghemat biaya cetak skripsi. Namun, penerapan daring ini dirasa kurang efektif dan efisien di saat mahasiswa ingin konsultasi bimbingan skripsi. “Tapi, konsul bimbingan gitu susah. Lebih nyaman konsul tatap muka langsung daripada online,” lanjutnya.
Menanggapi keresahan tersebut, Heni mengatakan bahwa khusus konsultasi bimbingan, ada keistimewaan pelayanan yang diberikan pada mahasiswa.
“Ini sebenarnya agak sulit kalau online karena bimbingan kan banyak yang mau diarahkan. Cuma sejauh ini bisa aja. File dikirim via e-mail. Bimbingannya bisa pakai Whatsapp. Mau chat, voice call, ataupun video call mah hayuk aja. Yang penting memudahkan mahasiswa dan mahasiswa bisa paham,” jelas Heni.
Meski terdapat banyak kesulitan pada kuliah daring, Heni berharap para mahasiswa terus belajar dan menggunakan waktunya dengan hal yang bermanfaat.
“Mahasiswa tetap belajar seperti biasa. Waktu yang kosong silahkan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Tugas yang sudah diberikan dosen ya dikerjakan, karena semua jenjang pendidikan juga seperti ini. Kuliah online bukan karena dosen atau kampus yang tidak mau melakukan perkuliahan secara tatap muka, tapi memang kondisi yang tidak memungkinkan. Demi kebaikan semua pihak lah,” tegasnya. (sly)
