teraju.id, Mempawah – Dalam perjalanan dari Pontianak menuju Mempawah, hujan mulai turun. Dua jam kemudian, kami tiba di Rumah Dinas Mempawah yang indah, terletak strategis di dekat setiap situs budaya yang kami kunjungi. Malam itu, kami disambut oleh Pak El Zuratnam (Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mempawah) untuk makan malam dengan hidangan tradisional setempat.
Perjalanan kami dimulai pada hari Selasa, 19 Agustus. Kami mengunjungi Makam Opu Daeng Manambon di pagi hari. Sebagai seseorang dari Amerika Serikat, saya belum pernah memiliki pengalaman adat budaya seperti ini. Setiap orang yang memasuki makam diwajibkan melepas alas kaki, sebagai tanda penghormatan dan kebersihan bagi yang telah meninggal. Di dalam makam, dipenuhi dengan cat emas dan karpet untuk berdoa yang terhampar di lantai. Berasal dari latar belakang yang tidak mengenal berdoa (dalam ajaran islam), ini adalah pengalaman baru bagi saya. Seorang bapak tua melafalkan doa dalam bahasa Arab, dan semua orang di sekitar saya memejamkan mata. Saya memutuskan (mengikuti), meskipun tidak yakin dengan tata cara resminya, saya akan menggunakan waktu ini untuk merenung dan mensyukuri segala keramahan serta sambutan hangat yang saya rasakan, sebagai seseorang yang berasal dari latar belakang yang sangat berbeda.
