Cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari ini pun menjelaskan bahwa penerapan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menyinergikan antara sekolah dengan Madin, sebagai pendidikan informal yang telah berperan penting dalam pendidikan karakter bangsa selama ini.
“Bentuknya koordinasi Madin dengan pihak sekolah, tapi belum dibahas secara detail. Yang terpenting semangatnya, bahwa kita tidak membiarkan Madin menjadi mati, tapi merangkul supaya Madin bisa menjadi agen merubah Pendidikan Karakter bagi anak lebih baik,” ucapnya.
Direktur Wahid Institute itu menghimbau agar kesalahpahaman mengenai konsep PPK sebagai Full Day School dapat segera berakhir.
“Jika PPK ini jadi diterapkan maka secara teori rencana yang ada bisa terimplementasikan karena sekolah, keluarga orang tua jadi peran penting,” ujarnya.
Ia mengapresiasi upaya Kemendikbud dalam menyinergikan Tri Pusat Pendidikan dalam kebijakan PPK. Menurutnya, ajaran Ki Hajar Dewantara ini benar dan penting bagi penguatan karakter generasi muda. “Perlu ada sinkronisasi nilai antara orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah,” jelasnya.
Pada kesempatan lain, Muhadjir yang juga mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini juga memastikan bahwa Kemendikbud tidak ada rencana membuat program FDS atau Full Day School. “Program yang hendak dipertajam adalah program Penguatan Pendidikan Karakter,” tegasnya. (/r)
