Nasional

Menelisik Paham Radikal di Tahun Politik: Monitoring Propaganda Rusia di Tengah 371 Juta Pengguna HP di Indonesia

Menelisik Paham Radikal di Tahun Politik: Monitoring Propaganda Rusia di Tengah 371 Juta Pengguna HP di Indonesia

Terkait dengan tahun politik, Hamli mengungkapkan di era digital, di mana informasi mengucur deras, kondisi lokal menjadi global, dan begitu sebaliknya. Misalnya situasi politik di AS di mana kubu Hillary Clinton nyaris tak terkalahkan menurut berbagai data sigi dan analisis pakar, tetapi pada akhirnya bisa dikalahkan Donald Trump melalui propaganda bernada politik identitas. Politik identitas itu atas nama suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Menangnya Trump diadopsi berbagai bangsa. “Kita berharap, Indonesia tetap aman dan kondusif,” sambungnya.
Bahaya politik identitas ini dapat diuraikan sesuai literatur politik sebagai Propaganda Rusia. Dalam sejarah perpolitikan Rusia, kemenangan dapat diraih apabila opini publik dibentuk secara solid dengan menggelontorkan informasi sederas mungkin, walaupun isinya adalah fitnah dan bohong alias hoax. “Walaupun salah dan bohong bahkan fitnah, karena diproduksi sistematis, digunakan secara terus menerus, disalurkan melalui multichannel, maka klarifikasi sudah tak berpengaruh signifikan lagi. Propaganda Rusia ini memanfaatkan neuropsikologi publik. Ketika publik bingung, dimunculkanlah tokoh tertentu seolah-olah tokoh tersebut sebagai dewa penyelamat.”

Propaganda Rusia menjadi subur di Indonesia dalam tahun politik 2019 dilatari dengan 371 warga pengguna saluran telepon pintar dari 261 juta penduduknya. Dari 371 juta pengguna HP tersebut, 143 juta aktif berinternet.