“Iran dan Irak kurang apa dalam keislamannya, kenapa terpapar radikalisme? Kita harus pelajari sejarah. Dalami data dan angka. Jaga modal keamanan yang dimiliki Indonesia,” imbuhnya dengan nada datar dan lembut.
Indonesia, lanjutnya, menguak prediksi futurolog dunia, bahwa Indonesia empat kali diprediksi pecah. Namun tidak terjadi. Apa sebab? Menurut tokoh yang pioner perihal dialog antar umat beragama di dunia ini adalah sikap hidup beragama yang toleran.
“Jangan mudah mengklaim kafir. Ahmadiah. Syiah. Sebab perpecahan umat beragama inilah yang sedang dilakukan pihak yang menghendaki Indonesia bubar,” urainya.
Radikalisme adalah anak kandung globalisasi. Demikian karena globalisasi menghasilkan ketidakadilan. Ketidakadilan inilah musuh bersama. (Nuris)
