teraju.id, Nusantara— Politik orang Asia adalah politik perasaan atawa sentimentil. Demikian dikemukakan mantan Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Dr H Thamrin Usman, DEA. Ia mengomentari FaceBooker yang memuji tagar Sultan Hamid Pahlawan Nasional yang diekspose pada laman FaceBooknya, 12/7/20. Tagar tersebut didengungkan tanggal 12— tepat 107 tahun kelahiran Sang Perancang Lambang Negara, Sultan Hamid II, Menteri Negara ZonderPortofolio era Kabinet RIS pimpinan Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Hatta.
“Ketika berbeda dalam cara pandang, maka muncullah pikiran like-dislike.” Demikian guru besar kelahiran Kampung Dalam kawasan Kesultanan Qadriyah, tempat di mana juga Sultan Hamid dilahirkan 107 tahun silam.
“Tidaklah haram ketika seseorang memandang sesuatu dari sudat pandang yang berbeda. Seperti halnya ketika melihat potret diri, maka jika seseorang melihat wajah seseorang dari depan dan yang dilihat hidung maka kita dapat menilai bahwa hidungnya biasa biasa saja, tdk mancung. Tapi jika kita lihat dari sudut pandang yang berbeda misalkan dari samping, maka tampaklah lebih jelas lagi bahwa ternyata hidungnya mancung.”
