Berita

Sejarah Perjalanan Hartunas

Sejarah Perjalanan Hartunas

Hartunas (Hari Pantun Nasional) adalah buah dari perjuangan panjang banyak pihak di Indonesia.

Dimulai dengan ikhtiar mengajukan pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Unesco. Memang Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) terus berpikir apa lagi setelah batik ditetapkan sebagai WBTB dan keris? Jatuhlah kepada sastra lisan: pantun.

Indonesia mengenal luas tradisi pelisanan ini. Terutama wilayah pesisir atau pantai. Mulai dari Aceh sampai Papua. Wabil khusus Riau, Kepri, Medan, Betawi-Jakarta hingga Bumi Khatulistiwa–Pontianak yang berbatasan dengan Jiran, Sarawak, Malaysia.

Kalbar turut mendukung Riau dan ATL Pusat memperjuangkan pantun sebagai WBTB Unesco, dengan mempersembahkan “dailylife pantun” di tengah masyarakat. Ditampilkan dengan sesi seminar internasional Serumpun Berpantun (Indonesia, Malaysia, Brunei, Jerman), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ATL Pusat hingga perwakilan Unesco di Indonesia. Alhamdulillah. Puji Tuhan, dailylife dengan sajian hybrid di teraju.id di 16 Desember 2020 turut memperkuat naskah akademik yang digali di ATL Riau, Kepri, Medan, Betawi dll wilayah Nusantara.

Sehari setelahnya, 17 Desember 2020 Unesco mengetuk palu 3x tanda diterimanya pantun sebagai WBTB. Kohesi sosial komunitas menemukan momentum emasnya.